Pergi sudah negeri kabut. Udara yang nirmala akhirnya kembalikan catan biru di dada langit. Semua di atas izin dan kuasa-Nya. Syukur.
Zarathustra
Saya sukar mengetap bibir mata kebelakangan ini. Ada gangguan dalam benak ini yang merencat waktu rehat saya yang tidak seenak insan lain. Tetapi, saya juga pusing memikirkan mainan kata Zarathustra yang sangat menekan kompas fahaman moral saya. Ah! Mungkinkah tiba waktunya saya bersengketa dengan maharaja siang kembali?
Comments
Post a Comment