Benarkah adanya manusia yang berhati keras? Tiada wujudnya rasa simpati atau mudah terasa hati dengan insan lain? Saya menilai diri saya sedemikian rupa. Namun saya terkesan hanya dengan perkara kecil. Misalnya gejolak sukma yang merasakan saya hanya pilihan terakhir yang ada di benak insan lain. Nian saya terkesan dengannya. Jadi, saya sebenarnya masih rapuh?
Zarathustra
Saya sukar mengetap bibir mata kebelakangan ini. Ada gangguan dalam benak ini yang merencat waktu rehat saya yang tidak seenak insan lain. Tetapi, saya juga pusing memikirkan mainan kata Zarathustra yang sangat menekan kompas fahaman moral saya. Ah! Mungkinkah tiba waktunya saya bersengketa dengan maharaja siang kembali?
Comments
Post a Comment