Oktober yang amat menduga sudah di penghujung. Meski ia bagai hampir selesai, luka masih deras mengalirkan titis duka, lalu menghanyutkan kekuatan yang tersisa. Saya akui sedikit lega setelah ianya berakhir. Namun apa guna bila dugaan itu merentap sekali satu-satunya lindungan saya yakni semangat? Berulang kali saya citakan untuk bebas laksana unggas di udara. Kekal terbang tanpa batas walau hanya sendiri. Saya sanggup.
Zarathustra
Saya sukar mengetap bibir mata kebelakangan ini. Ada gangguan dalam benak ini yang merencat waktu rehat saya yang tidak seenak insan lain. Tetapi, saya juga pusing memikirkan mainan kata Zarathustra yang sangat menekan kompas fahaman moral saya. Ah! Mungkinkah tiba waktunya saya bersengketa dengan maharaja siang kembali?

Comments
Post a Comment