Mereka hanya ghairah saat perihal sia-sia diutarakan. Mengecewakan. Mereka dirangsang oleh abet jahat Sang Derhaka. Menakutkan. Dan saya cuma terpanar sendiri. Keliru.
Zarathustra
Saya sukar mengetap bibir mata kebelakangan ini. Ada gangguan dalam benak ini yang merencat waktu rehat saya yang tidak seenak insan lain. Tetapi, saya juga pusing memikirkan mainan kata Zarathustra yang sangat menekan kompas fahaman moral saya. Ah! Mungkinkah tiba waktunya saya bersengketa dengan maharaja siang kembali?
Comments
Post a Comment